Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2012

CERPEN CINTA SEDIH TERBARU


Cerpen Cinta Sedih : Sang Dewi Part II

Ditulis oleh muhammad yasri
Cerpen Cinta Sedih : Sang Dewi Part II, ini dia Kelajutan Cerpen Cinta Sedih : Sang Dewi Part I setelah Kemaren sempat Kita telah membaca Cerpen Cinta Sedih : Sang Dewi Part I Yang membuat Penasaran tentang Kelajutan ceritanya,Mari kita Baca Kelanjutanya:

Bagian 2: I see you, , ,
Ku dengar suara adzan di keheningan malam ini, hatiku terketuk untuk mengambil wudu lalu sholat meminta petunjuknya. Setelah ini, aku akan tidur lelap, tak akan ada bayang-bayang Reza dalam tidurku malam ini.

Memang akhir-akhir ini aku merasa gundah. Kenangan itu muncul kembali, saat aku bersama Reza, saat aku merasa memiliki dia seutuhnya… akh,,, mungkin ini hanya perasaan sesaatku saja.
Aku mengambil segelas air putih ke dapur, ternyata dadaku sesak…entahlah. Dadaku selalu sesak saat aku ingat kenangan pahit itu, oh tuhan…mengapa aku belum mampu melupakan Reza sedikitpun,,, sampai sekarang sudah 1 tahun aku hidup sendiri.

Bapak dan mama sudah menjodohkan aku dengan Ega. Tapi aku tak bisa bersama Ega, aku tak bisa mencintainya…maaf, hanya itu yang bisa aku katakan, ada kalanya aku merasa ini bodoh.
Ya, aku memang bodoh, aku selalu memandang wajahku  yang mulai tampak tua di cermin… adakah nanti lelaki yang mencintai aku??? Selain Ega, lelaki pilihan orang tuaku….

Pk. 05 00 WIB.....
Dewi……ku dengar suara Mbak sarah memanggilku,  “ini masih terlalu pagi untuk pergi keklinik , kasi dulu aku tidur mbak” sahutku.
“dew,,, antar mbak jogging di taman komplek, ayolah” suara mbak sarah dibalik pintu.
Tumben aku melihat mbak’ku ini begitu bersemangat, dia terlihat cantik pagi ini.
“mbak sudah mandi ya?” bukannya kita mau jogging?” tanyaku penasaran.
 “ iya, mbak kan mau janjian sama seseorang “ jawab mbak sarah malu-malu.
Sesosok pria berbaju kaos putih dengan handuk kecil di pundaknya, “EGA?????” ka……kalian???? “ “ iya dew, maaf” kata mbak sarah.
Aku tetap tidak mengerti. Akhirnya mereka menceritakan sebuah rahasia padaku. “ kalian pacaran”???? aku sangat terkejut,
“lalu  pertunangan itu?”aku bingung dibuatnya. “iya dew” mbak takut bilang sama kamu, mbak tau kamu masih sakit hati sama reza, dan mbak gak mungkin menghalangi kamu untuk bahagia.”

“tapi mbak, bukan berati mbak harus mengorbankan kebahagiaan mbak sendiri”. Aku berusaha meyakinkan mbak sarah untuk berterus terang tentang Ega ke bapak dan mama. Mungkin aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri, jika aku merebut orang yang mbak sarah cintai…

Mbak sarah selalu menyimpan rahasianya rapat-rapat, dia tak pernah menceritakanya kepada siapapun, termasuk aku. Yang aku tahu, sejak ia bercerai dengan Mas Sony empat tahun yang lalu, ia tak pernah dekat dengan pria lagi.
Mbak sarah hanya memikirkan keluarga dan adik-adiknya. Dari pernikahanya dengan Sony, mbak sarah punya satu anak namanya Dita, dia sekarang ikut mas sony di Amerika.
Sejak mbak sarah kembali kerumah kami, dia tak pernah menyebut anak dan mantan suaminya, mungkin didalam hati kecilnya mbak sarah begitu merindukan dita tapi ia bisa meng-keep semuanya sendiri tanpa seorangpun tau.
Ega 6 tahun lebih muda dari mbak sarah, dan dia tahu tentang status mbak ku yang merupakan seorang janda beranak satu. Sepertinya Ega tulus menerima dan mencintai mbak sarah apa adanya, aku yakin karena Ega tak pernah menanggapi aku, tunanganya yang sah dimata keluarga. Itu artinya Ega benar-benar menjaga perasaannya untuk tidak berpaling dari mbak sarah.

Pertengahan bulan ini, aku kembali merasakan kebahagiaan dalam keluargaku. Mbak Sarah menikah dengan Ega… sungguh sesuatu yang sangat aku harapkan untuk melihat mbak sarah tersenyum kembali setelah trauma perceraian.

5bulan berlalu,,,
Pagi ini rasanya aku malas sekali untuk pergi keklinik, bahkan kukendarai mobil ini pelan dan sangat pelan kurasa. Aku tak tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan menungguku di sana. 
Sesampainya diklinik, aku rapihkan meja kerjaku yang sedikit berantakan
, banyak file yang tak kuletakkan pada tempatnya. 
Ruangan ini penuh dengan bau obat, jadi aku butuh sedikit penyegar disini. Ku buka loker khusus yang aku punya, dulu aku menyimpan beberapa pewangi ruangan disini, tapi yang ku temukan malah bingkai foto ku dengan Reza. 

Aku mengambil foto itu, untuk mencari pewangi yang mungkin saja ada di bawahnya. “dewiii….suara Tata mengejutkan aku, foto itu jatuh kelantai, dan akhirnya pecah berkeping-keping. “ada apa?” “ dewi….” Reza…” suara Tata gugup.”Reza kecelakaan”. Aku tak sempat berkata apa-apa, aku tak menanyakan sebabya, bagaimana itu bisa terjadi….yang terpikir olehku hanya melihatnya, memastikan bagaimana reza…apa dia baik-baik saja.//  inahilai wainailahirojiun

Di tempat peristirahatan reza yang terakhir, 
Diterpaan cahaya matahari yang begitu terang, tapi kulihat langitku berawan... awan hitam yang menyelimuti tempat peristirahatan reza yang terakhir. 
Kami semua hadir dalam upacara pemakaman yang berlangsung haru penuh isak tangis dan aku hanya bisa menitipkan doa-doa ku padanya, ini akan membuat reza tenang dan bahagia disana. 

Aku melihatmu untuk terakhir kalinya sekarang….I see you…my dear, kataku dalam hati. Aku tak sanggup melihat wajah kesedihan yang menyelimuti wajah setiap orang yang Reza tinggalkan, terutama Tya dan keluarga. 
Ku peluk Tya, kuharap dia tegar dengan kepergian Reza, masih ada Genta yang Reza titipkan untuk Tya, buah cinta mereka yang bisa menjadi satu-satunya cahaya hidup tya dan keluarga. Reza akan selalu abadi di benak kami semua,

I see you…

 wajahmu yang pucat,

Senyumanmu yang beku….

Lalu kusentuh tanganmu yang dingin seperti salju

Tapi ku tak mampu memeluk tubuhmu yang kaku…

Hanya bisa ku menawarkan bahuku…

Untuk-nya yang kau tinggalkan….

Sebuah puisi untuk jiwa kekasihku yang telah pergi….

Terbang lalu menghilang dengan sejuta kilau cahaya 

menuju-Nya yang memanggilmu

menantimu ditempat kesunyian, dan alunan doa menyertai langkahmu..

Selamat jalan…Reza!

Pagi yang cerah di hari rabu, dua tahun kemudian
Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku sudah diklinik praktik ku di Jln.Sudirman, dan berharap tak ada orang sakit hari ini… karena aku ingin pergi kesalon saat makan siang dengan Tata  sassisten perawat ku di klinik.  

Setidaknya setelah mbak sarah menikah, aku sadar akan pentingnya merawat kecantikan demi mendapatkan pasangan. 
Aku yang dulu tak pernah peduli akan diriku sendiri, bahkan aku tak punya banyak waktu luang hanya untuk membuang-buang uang di salon-salon kecantikan. Yaa, sekarang harus bisa….aku tak harus berfikir ini akan sia-sia. 
Aku juga ingin bahagia seperti mbak sarah. “Dew, kamu belum mau merit ya?” Tata mencoba menanyakan hal yang orang lain tak berani untuk menanyakannya padaku. “ sorry Dew, bukan maksudku….” 
“ tak apa Ta, aku belum menemukan orang yang tepat sampai detik ini,, atau bahkan aku tak berani untuk percaya pada orang. 
“dulu sahabatku sendiri, kemarin kakakku….terus kapan aku akan bahagia?” jawabku. 
“ dew, saran gue, elo cari pasangan elo sendiri…Cuma elo yang tau apa yang terbaik buat hidup loe. Mendengar kata-kata Tata yang sedikit banyak memang benar, hatiku jadi tergugah untuk bangkit dari masalaluku yang teramat menyakitkan.
Bulan Maret ini mungkin menjadi bulan yang penuh kejutkan untukku, teman lamaku saat kuliah mengenalkan aku dengan seseorang. 
Dia berkulit agak gelap, tubuhnya tinggi berisi, seperti yang aku idam-idamkan, namanya Candra. Candra adalah seorang pelatih di militer, tegas dan pemberani tentunya. 
Aku mengenalnya seminggu yang lalu, dia baik dan sedikit kasar, Aku suka itu, walaupun dia sangat berbeda dengan reza, candra sama sekali bukan tipe orang humoris, dia bicara seperlunya, bertindak sperlunya, susah di tebak layaknya scorpio boy yang lain. 

Ya, dia scorpio, wataknya sudah pernah aku kenal, Reza memiliki zodiac yang sama tapi bagaimana bisa mereka memilki perbedaan yang begitu nyata. Candra Dharmawan, seorang pria yang penuh misteri, aku tak pernah tau apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan di dalam hatinya. 

Perasaannya terhadapku dan bagaimana aku di matanya,,,,aku tak pernah tau itu. Hubungan kami berkembang dengan begitu cepat. Hanya sebulan masa pengenalan ku tentang candra, kami akhirnya jadian.
Hari-hariku dipenuhi olehnya, pikiranku sibuk memikirknya….itulah yang aku rasakan ketika awal-awal perjalanan cintaku dengan candra. Tak banyak waktuku yang ia biarkan sendirian, dia slalu menemani aku. Namun anehnya, aku tak merasakan jenuh sedikitpun….apakah ini Cinta? Apakah ini nyata?
Kini aku telah bersama Candra…berharap semua akan berakhir bahagia, sebuah cincin telah melingkari jeri manisku namun walaupun kami belum menikah, aku yakin candralah yang terbaik untukku.

Namun sepenggal kisah cinta segitiga yang dulu begitu menyakitiku, hanya merajut seuntai kenangan saat ku lihat Genta dan Tya, sebuah kenangan tentang Reza...yang kini telah damai di sisi-Nya. 

Kini aku tertawa dan mereka menangis, aku tak sedikitpun mengharapkan semua ini terjadi. Hanya saja kini aku yakin, cinta tak selamanya menangis dan tak selamanya pula tertawa, ada kalanya kita menghadapi masalah yang bahkan tak pernah kita bayangkan sebelumnya, namun ketika kita telah mampu melewatinya.. semua akan menjadi indah.

CERPEN SEDIH - Galau


Cerpen Sedih : Galau

Ditulis oleh muhammad yasri
Cerpen Sedih : Galau, Cerpen ini Menceritakan tentang Masalah Internal dalam keperibadian Ray, sehingga ia Mengalami ganguan dalam dirinya,
Bagaimananakah Cerpen Sedih : Galau in?
Silahkan baca,Karena kali ini ilmuini tidak akan Banyak Menuturkan, :)

Ray   adalah remaja yang lugu  di samping itu pergaulannya kurang  seingga dia suka di remein  sama temannya ,itulah  membuat dia kurang percaya diri terhadap dirinya .

dalam kehidupan seharinya  dilingkari dengan masalah yang tidak perna berhenti menghantui dirinya terutama masalah  ngelamun  jorok terhadap sesama lawan jenis ini lah yang membuat kehidupan ray  agak  sedikit terganggu berulang kali dia berusaha menghilangkan kebiasaan buruk ini namun tidak kunjung selesai  sampai-sampai berteriak  secara histeris .(tidak-tidak kenapa pikian ini selalu menghantui aku ,aku tidak sanggup lagi menghadapi semua ini ,kenapa aku harus memikirkan masalah yang dapat mengabaikan masah depan aku).

perkataan ini di lontarkan oleh ray berulang-ulang .yang lebih histerisnya lagi  ucapan ni selalu dilontarkan di mana – mana.

Pada sesuatu ketika ray berlibur ke sesuatu tempat untuk menghibur dirinya .
dia duduk di atas batu yang besar dan dikelilingi oleh air yang jernih lalu dia merenung sambil memikirkan masalah yang ia hadap lalu dia berfikir dengan kepala sedikit merunduk ke arah air dan menatap jerninya air sudah berjam-jam dia merenung dan menatap jerinya air akhirnya dia berpikir .andaikan jiwa dan hati saya seperti air yang jerni mungkin kebaikan akan hadir didalam hidup saya 

Dan dia berpikir positif  mengenai masalah yang ia hadapi ,lalu ia ingin menghilangkan kebiasaan buruk  secara berlahan-lahan.dan ingin menjadi manusia yang berguna buat orang banyak dan menjadi manusia yang selalu berpikir positif dalam menghadapi setiap masalah.

Beberapa minggu kemudian peristiwa buruk ini datang lagi menghantui kehidupan ray ,akhirnya ray bimbang terhadap dirinya ray yang tadinya ingin beruba total .akhirnya berubah menjadi manusia yang pemarah ,emosian muda tersinggung dan tidak suka bergaul.pada suatu saat ray berteriak menggelegar di kamarnya (tidaaaak kenapa kehidupan ini begini banget terhadap gue,kenapa keadilan ini tidak berpihak sama saya).

lalu dia melemparkan buku ,menghamburkan baju,mengetuk kepalanya kedinting sampai kepalanya berdarah .

Sudah dua hari dua malam ray tidak mau menampakkan diri nya dan diam dikamar dengan air mata bercucuran melihat dua hari dua malam ray tidak keluar kamar akihrnya orang tuanya mengetuk  kamar ray dan mendobraknya sampai terbuka .

orang tuanya langsung sedih dan menangis melihat ray (dengan kepalah berdarah ,kamar berantakan ).

Lalu orang tua ray menanyakan kepada ray kenapa ini bisa terjadi dan mengapa kamu melakukan hal sebodoh ini lalu ray menceritakan peristiwa yang terjadi terhadap dirinya.mendengar kejadian itu akirnya orang tua ray menangis dan menyesal tidak melakukan ray selayaknya orang tua  trhadap anak.

orang tuanya ray tidak mau lagi melihat tingkah laku ray seperti ini dan orang  tua membawah ray kepada seorang kea’i di sana lah kehidupan ray berubah total yang tadinya ray berburuk sangka terhadap pencipta ,terhadap orang tua dan sesama temannya .

Dengan nasehat pak kea’i tersebut mengubah tingka laku ray,yang tiadinya kaku menjadi pede ,yang tadi kurang pergaulan akhirnya disayangi banyak teman,yang tadinya suka menyendiri akhirnya suka dengan pergaulan dan di segani banyak orang.ternya permasalahan yang dihapai seseorang dapat memotivasinya dan membuat kehidupannya lebih baik

Minggu, 01 Januari 2012

CERPEN.BLOG - Buroq



Cerpen: Ratih Kumala


Tak ada yang lebih aneh dari pada terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci dan mendapati dirinya penuh mengingat mimpi yang baru saja turun dalam lelap satu menit lalu; ia seorang bejat yang tak pernah salat- bermimpi bertemu Muhammad. Bagaimana bisa? 

Inilah yang dikerjakannya setiap hari, bangun menjelang siang setelah malamnya menghabiskan berbotol-botol bir bersama teman-teman di depan kios tattonya. Tidak ada yang pernah benar-benar tahu siapa nama aselinya. Semua orang memanggilnya Cimeng, tentu itu bukan nama aslinya. Kulitnya gelap dan dia menggambarinya dengan tatto berwarna-warni. Dia menyebutnya seni, teman-temannya menyebutnya keren, anak-anak ABG menyebutnya anak punk, sedang tetangga-tetangga yang sudah pasti tidak menyukai kios tattonya menyebutnya berandal. 

Pencerita mimpi siang itu sangat baik pada dirinya. Tentu saja ia heran, dirinya yang selama ini menganggap dunia brengsek maka dia harus menjadi seorang brengsek pula, tiba-tiba menjadi orang terpilih yang bertemu Muhammad dalam mimpinya. Ia tak tahu apa artinya, tapi mimpi itu sangat jelas. Hanya ada satu yang tidak jelas; wajah Muhammad.

Telah 10 hari bulan Ramadhan, dan ia baru tiga kali benar-benar berpuasa. Siang saat ia bermimpi bertemu Muhammad adalah hari dirinya berpuasa untuk yang ketiga kalinya. Bukan karena merasa wajib, tetapi karena hari itu ia malas keluar dari rumah sewanya untuk membeli makanan. Hari itu diisinya dengan tidur dan baru terbangun saat aroma bunga menyeruak hidung bercampur denting gerimis yang membawa aroma tanah. Matanya terbuka, ia ngulet ke arah matahari datang. Jendela terbuka menyuguhkan pemandangan mozaik, sedikit linglung merasa tak pasti apakah itu pagi atau sore. Ia dibangunkan oleh mimpi yang aneh; lelaki itu penuh wibawa berdiri di atas buroq; kendaraan yang konon lebih cepat dari cahaya dan membawanya ke lapis langit ketujuh.

*
Saat terbangun, ia melihat pemandangan matahari kemerahan di balik jendela terbuka, gerimis, serta pohon kamboja di sebelah rumahnya yang bertetangga dengan kuburan kecil menyeruak aroma bunga merah muda. Ia mengingat-ingat, apakah saat itu pagi atau senja. Usianya baru tujuh tahun tapi ia sanggup berpuasa penuh. Ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu menyapa dengan lembut, "Qatrun, salat asar dulu. Sebentar lagi magrib." Kini ia tahu, dirinya terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci. Ia tak bergegas, mengingat-ingat mimpinya satu menit yang lalu. Sebuah mimpi yang jelas, hanya satu yang tidak begitu jelas; wajah Muhammad dalam mimpinya.

Sehabis berbuka puasa dan magrib lewat, Qatrun kecil mengambil sarung dan peci. Teman-temannya berteriak memanggil-manggil namanya di depan rumah, mengajak pergi ke surau berbarengan untuk tarawih. Kali ini setelah tarawih selesai ia tidak langsung pulang. Bahkan saat teman-teman merayunya dengan segenggam mercon yang disembunyikan di balik sarung untuk diledakkan di perempatan jalan, Qatrun tetap berada di surau dan menunggu sepi, ingin berbicara dengan Ustaz.
"Ustaz, aku bermimpi aneh."
"Mimpi apa?"
"Muhammad."
"Kau mimpi bertemu Muhammad?" ia harus mengakui ada rasa iri menyelip. Bahkan dirinya yang sudah berumur dan menganggap cukup taat belum pernah mimpi bersua Muhammad. "Bagaimana ia?"
"Ia berdiri di atas buroq dengan wajah yang tidak begitu jelas dan menatap ke arah kami."
"Kami?"
"Aku dan sekelompok orang. Tetapi mereka tidak ada yang percaya kalau dia Muhammad. Hanya aku dan seorang laki-laki beraroma minuman keras yang berdiri di sebelahku yang percaya."
"Lelaki beraroma minuman keras?" tanya Ustaz setengah sanksi. Qatrun mengangguk yakin, "seperti apa buroq?"
"Seperti sampan panjang,"
"Lalu bagaimana kau tahu Muhammad naik buroq, bukan naik sampan?"
"Aku tahu, Ustaz! Itu buroq, bukan sampan."
*

Menjelang magrib, laki-laki yang dipanggil Cimeng itu berjalan ke mini market dekat rumah sewanya dan membeli roti tawar untuk makan. Ia masih tetap mengingat-ingat mimpinya tadi. Ada sekelompok orang, namun hanya dirinya dan seorang bocah yang percaya bahwa lelaki yang berdiri di atas buroq itu adalah Muhammad. Usai makan dan mandi, tangannya tergerak. Ia mengambil jarum tatto dan mulai menggambar di lengannya. Sebuah sampan berwarna hijau dan sebuah lingkar di atas sampan berwarna kuning. Warna cahaya.
*

Qatrun tahu, minum keras itu beraroma seperti apa walaupun ia tak pernah menyentuhnya barang sedikit. Ia mengenali warna raut wajah memerah jika seseorang mabuk. Ia juga tahu bahwa minuman keras itulah yang menyebabkan ibunya memar-memar. Malam-malam saat ayahnya masih agak sering pulang ke rumah dalam keadaan teler, ibu selalu menunggu hingga tertidur di kursi panjang yang tak patut disebut sebagai sofa di ruang depan rumahnya yang kecil. Saat pulang, tak jarang ayahnya membawa aroma sangit keringat bercampur minuman keras, penat yang sangat, serta sedikit uang hasil menyupir truk. Itu bukan pemandangan baru bagi Qatrun. Jika ibu bertanya habis dari mana, tangan ayahnya melayang ke pipi ibu, meninggalkan bekas memerah. Sedang ia akan terbangun, mengintip dari balik tirai pintu. Hingga suatu hari ayahnya tak pernah kembali walaupun ibu masih menunggu pada malam-malam setelah isya' didirikan dan mengambil selembar bantal tipis untuk menyangga lehernya di kursi panjang di ruang tamu mereka yang kecil.

Di kamarnya yang kecil, Qatrun menggambar. Sebuah sampan panjang berwarna hijau terang, dan sebuah lingkar di atas sampan yang dikelir warna kuning. Warna cahaya.
*

Walau sekarang Ramadhan, dan Cimeng mengaku beragama Islam, ia tetap tidak puasa, tentu saja. Ia sedang menerima order tindik di lidah seorang anak usia SMA.
"Gambar apaan nih?" tanya ABG itu. Lengan Cimeng yang terbuka memperlihatkan tatto-tattonya yang sudah tak terhitung. Anak itu tertarik pada sebuah tatto yang baru dibuatnya dua hari lalu.
"Ini...," ia urung menjelaskan, "nurut elo gambar apa?"
"Bola naik perahu ya?" Cimeng hanya tersenyum atas jawaban si ABG.

Kios tatto di rumah sewanya baru sepi menjelang siang. Cimeng duduk terdiam, ia tiba-tiba merasa lelah sekali. Dihitungnya sudah berapa lama dia pergi dari rumah dan tak kembali. Ia hanya mengirimkan sesekali surat untuk rumahnya saja. Tapi dia tak pernah benar-benar tahu apa yang ingin ditulisnya. Ibunya selalu bertanya, kapan akan pulang. Semakin banyak tatto dan tindik yang dia buat di tubuhnya, semakin urung pula ia pulang. Walau kadang-kadang ingin.
*

Malam berikut saat buka puasa Qatrun menunjukkan gambar itu pada ibunya.
"Gambar apa ini? Ibu ndak ngerti."
"Ini gambar mimpiku, Bu."
"Mimpi apa?"
"Ini Muhammad," katanya menunjuk gambar lingkar berwarna kuning, "ini buroq, kendaraan saat Muhammad pergi ke langit ketujuh bersama malaikat."
"Kapan kamu mimpi ini?"
"Kemarin, waktu tidur siang."

Ibunya terharu, mengelus pelan rambut anaknya. Seperti biasa, Qatrun selalu pergi ke masjid untuk tarawih. Selesai tarawih kali itu pula ia tak langsung pulang. Ditunjukkannya gambarnya pada Ustaz dan beberapa teman lain. Ia jelaskan, gambar itu adalah Muhammad sedang naik buroq.
"Qatrun, hanya orang-orang terpilih yang bisa ditemui Muhammad di mimpinya," ujar Ustaz.
"Apakah itu berarti aku orang terpilih?"
"Kau yakin tak berbohong atas cerita mimpimu itu? Berbohong itu dosa." Teman-teman yang tadinya antusias mendengar cerita Qatrun bermimpi bertemu Muhammad, jadi terdiam. Memandang bergantian antara Qatrun dan Ustaz. Qatrun kecewa akan perkataan Ustaznya. Ia mengambil gambar itu. 

Pergi dari surau dan tak pernah datang lagi untuk salat subuh, atau magrib, atau isya� atau tarawih. Gambar itu diletakkan begitu saja di atas meja. Tak pernah ia menyentuhnya lagi, hingga gambar itu hilang entah ke mana. Qatrun sekarang lebih suka membuat bermacam-macam gambar di bukunya. Tak hanya buku gambar, tapi buku tulis sekolah juga jadi penuh gambar. Ia tak hanya menggambar gunung, sawah dan rumah kecil. Kini gambar-gambarnya jadi berragam dan makin rumit. Qatrun pun jadi pendiam, hingga suatu hari dia bercita-cita akan meninggalkan rumah jika sekolah selesai.
*

Kios tatto hari itu ditutup, rumah sewa juga tutup. Anak-anak punk dan ABG yang sering mangkal di situ heran karena rumah itu tiba-tiba tutup dan digembok. Cimeng pergi mematikan HP-nya setelah sebelumnya dia mengirimkan sebuah SMS ke seorang temannya. Gue mudik, bunyi SMS itu.

Ia tak percaya, kampung kecil itu dijejakkinya lagi. Ia tak yakin ibu dan teman-temannya masih mengenalinya setelah pergi dari kampung itu tujuh tahun yang lalu, mengingat begitu banyak tatto dan tindik di tubuhnya sekarang. Ia khawatir ibunya tak mengenalinya. Saat ia sampai dan mengetok-ngetok pintu, rumah kecil itu tak dikunci. Cimeng masuk tanpa permisi. Seorang perempuan paruh baya berjilbab tertidur di kursi panjang yang tak bisa disebut sofa dengan sebuah bantal tipis menyangga lehernya. Selembar kertas bergambar sebuah sampan berwarna hijau dan lingkaran kuning keemasan berada di dekapannya. Bertahun-tahun, dan anaknya tak pernah tahu bahwa ia masih menyimpan gambar itu. Ibu, Qatrun pulang.

CERPEN - Malam-Malam Nina



Cerpen Lan Fang


Ini sudah hari ke empat Nina kelihatan murung. Kian hari wajahnya semakin mendung dengan mata nanar dan bisu. Kerjanya setiap hari bangun dengan masai lalu duduk termenung.

Sebetulnya itu bukan urusanku. Karena Nina bukan siapa-siapaku. Ia hanya menyewa sebuah kamar di rumahku. Ia tinggal bersamaku baru dua bulan ini. Tetapi entah kenapa aku langsung menyukainya.

Rumahku tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu bagus. Sederhana saja. Rumahku berada di kampung yang dindingnya rapat dengan tembok rumah sebelah. Ada tiga kamar kosong. Tetapi aku tinggal sendirian. Karenanya aku menyewakan kamar-kamar kosong itu untuk menunjang hidupku di samping aku membuka sebuah warung kelontongan kecil di depan rumah.

Penghuni kamar pertama adalah Anita. Ia cantik dan selalu wangi karena ia bekerja sebagai seorang beauty advisor kosmetik terkenal di counter kosmetik sebuah plaza megah. Anita supel, periang dan pandai berdandan.

Kamar kedua dipakai oleh Tina. Ia juga cantik. Katanya ia bekerja di sebuah restaurant. Tetapi yang mengantarnya pulang selalu bukan laki-laki yang sama. Kepulan rokok mild juga tidak pernah lepas dari bibirnya yang seksi.

Tetapi aku bukan tipe pemilik kost yang rese’. Mereka kuberi kunci pintu supaya bila pulang larut malam tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan membuatku terganggu. Aku tidak terlalu pusing dengan apa pun yang mereka kerjakan. Toh mereka selalu membayar uang kost tepat waktu. Bukan itu saja, menurutku, mereka cukup baik. Mereka hormat dan sopan kepadaku. Apa pun yang mereka lakoni, tidak bisa membuatku memberikan stempel bahwa mereka bukan perempuan baik-baik.

Nina datang dua bulan yang lalu dan menempati kamar ketiga. Kutaksir usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Paling-paling hanya terpaut dua tiga tahun di bawahku. Ia tidak secantik Anita dan Tina, tetapi ia manis dan menarik dengan matanya yang selalu beriak dan senyumnya yang tulus. Ia rapi. Bukan saja kamarnya yang selalu tertata, tetapi kata-katanya pun halus dan terjaga. Ia membuatku teringat kepada seorang perempuan yang nyaris sempurna. Perempuan di masa lampau yang…ah…aku luka bila mengingatnya.

Oh ya, Nina juga tidak pernah keluar malam. Ia lebih banyak berada di rumah, bahkan ia tidak segan-segan membantuku menjaga warung. Kalaupun ia keluar rumah, ia akan keluar untuk tiga sampai empat hari setelah menerima telepon dari seseorang laki-laki. Laki-laki yang sama.

Bukan masalah kemurungannya saja yang aneh bagiku. Tetapi sudah dua minggu terakhir Nina tidak pernah keluar rumah. Bahkan tidak menerima atau menelepon sama sekali. Yang tampak olehku hanyalah kegelisahan yang menyobek pandangannya. Dan puncaknya adalah empat hari terakhir ini.

"Nina, ada apa? Beberapa hari ini kamu kelihatan murung…," aku tidak bisa mengerem lidahku untuk bertanya, ketika kami hanya berdua saja di rumah. Warung sudah tutup pukul sepuluh malam. Anita dan Tina belum pulang. Tetapi Nina kulihat masih termangu dengan mata kosong.

Ia menoleh dengan lesu setelah sepersekian menit diam seakan-akan tidak mendengarkan apa yang aku tanyakan. Kemurungan tampak menggunung di matanya yang selalu beriak. Tetapi ia cuma menggeleng.

"Apa yang sekiranya bisa Mbak bantu?" aku tidak peduli andai ia menganggapku rese’.

Lagi-lagi hanya gelengan. Ia masih duduk seperti arca membatu. Tapi mampu kubaca pikirannya gentayangan. Rohnya tidak berada di tubuhnya. Entah ke mana mengejewantah.

Nina memang tidak pernah bercerita tentang dirinya, tentang orang tuanya, asalnya, sekolahnya, perasaannya, atau tentang laki-laki yang kerap meneleponnya. Aku sendiri juga tidak pernah menanyakannya. Mungkin ada hal-hal yang tidak ingin dia bagi kepada orang lain. Maka biarlah ia menyimpannya sendiri. Bukankah aku juga seperti itu?

Sepi terasa lindap, seakan menancapkan kuku-kukunya mengoyak angin yang terluka. Hening itu benar-benar ada di antara aku dan Nina. Aku merasa tersayat. Karena sunyi seperti ini sudah kusimpan lima tahun lamanya. Kenapa sekarang mendadak hadir kembali?

Lalu aku bangkit dari dudukku, mengambil satu seri kartu sebesar kartu domino. Tetapi yang tergambar bukan bulatan-bulatan merah. Tetapi berbagai macam bentuk berwarna hitam. Aku menyimpannya sudah lama. Sejak mataku selalu berembun, lalu embun itu menitik di ujung hati. Sejak sepi yang tanpa warna mulai mengakrabi aku. Sejak itulah aku mulai berbagi resah dengan kartu-kartu ini. Mereka banyak memberiku tahu tentang apa saja yang aku ingin tahu.

Anita dan Tina sering melihatku bermain dengan kartu-kartuku di tengah malam ketika mereka pulang. Sejak melihatku bermain dengan kartu-kartu ini, mereka juga sering ikut bermain. Ada saja yang mereka ceritakan padaku melalui kartu-kartu ini. Jualan yang sepi, para langganan yang pelit memberikan tips sampai kepada pacar-pacar mereka yang datang dan pergi.

Aku menyulut sebatang dupa India. Aromanya semerbak langsung memenuhi ruangan. Aku suka. Setidaknya mengusir hampa yang sejak tadi mengambang di udara. Kukocok setumpuk kartu itu di tanganku. Kuletakkan di atas meja di depan Nina.

"Mari, temani Mbak bermain kartu. Ambillah satu…," ujarku.
Mata Nina memandangku. Bibirnya tetap rapat. Tetapi matanya mulai berembun. Dengan sebuah gerakan lamban tanpa semangat ia mengambil sebuah kartu. Lalu membukanya.

"Ah! Hatimu sedang kacau, sedih, kecewa, tidak menentu. Kau terluka," gumamku ketika melihat kartu yang dibukanya.

Seperti aku dulu…, aku melindas gelinjang rasa yang sudah lama kupendam.
Aku mulai membuka kartu-kartu berikutnya. "Kau sedang memikirkan seseorang,…ah bukan…kau merindukannya…penantian… jalan panjang…menunggu…kau menunggu seorang laki-laki?"
"Ya," suaranya gamang terdengar seperti datang dari dunia lain.

Kuteruskan membuka kartu-kartu itu. "Menunggu… halangan… perempuan…dia beristri?" kutanya ketika tampak olehku gambaran seorang perempuan di atas kartu itu.
"Ya," kali ini suaranya seperti cermin retak berderak. Ia luka sampai seperti sekarat.

Kurasakan derak-derak itu sampai menembus batinku. Kenapa seperti yang pernah kurasakan lima tahun lalu?
"Kamu mencintainya, Nina?"
"Amat sangat!" kali ini ia menjawab cepat.

Kuhela napas panjang. Kubiarkan kartu-kartu berserakan di antara aku dan Nina. Kulihat jantungnya seperti bulan tertusuk ilalang.

"Tetapi ia mengecewakanku, Mbak. Ia mengkhianati aku." Ia tidak mampu lagi menyembunyikan suara gemeretak hatinya yang bagaikan bunyi tembikar terbakar.

"Ia mengkhianati kamu? Bukannya ia yang mengkhianati istrinya? Bukankah ia sudah beristri?" aku bertanya, berpura-pura bodoh karena berusaha menyingkirkan masa lalu yang mulai menggigiti sanubariku. Perih itu masih terasa.

"Ya. Dia beristri. Tapi istrinya jahat sekali. Ia ingin meninggalkannya. Ia mencintaiku. Kami punya rencana masa depan," jawabnya naïf dan lugu.

Astaga! Seperti itukah diriku lima tahun silam? Aku benar-benar seperti melihat cermin diriku.

Kepulan asap dupa melemparku ke kepulan asap lain yang sama pekatnya lima tahun yang lalu. Aku berada di dalam kepulan-kepulan asap rokok tebal dari mulut para lelaki berduit yang kutemani duduk-duduk, minum, sampai ke kamar tidur. Para lelaki yang mabuk kepayang karena kecantikanku sebagai primadona di sebuah wisma di kompleks hiburan malam. Para lelaki kedinginan yang butuh kehangatan. Para lelaki kesepian yang butuh pelukan. Para lelaki yang tidak tahu lagi ke mana bisa menghamburkan uang mereka yang berlebihan.

"Istrinya jahat bagaimana? Namanya istri ya wajar saja dia tidak suka kalau suaminya berhubungan dengan perempuan lain," sahutku enteng atau tepatnya aku sudah terbiasa untuk "mengenteng-entengkan" jawaban yang ujung-ujungnya akan membuatku terluka. "Yang salah, ya suaminya. Sudah beristri kok masih bermain api. Tetapi namanya laki-laki ya begitu…," sambungku pelan.

Laki-laki memang begitu, desahku. Laki-laki memang suka bermain api. Laki-laki memang suka mendua. Seperti para lelaki yang datang dan pergi di atas ranjangku. Mereka terbakar hangus gairah memberangus, haus sampai dengus-dengus napas terakhir. Lalu mereka pergi setelah sumpalkan segepok uang di belahan dadaku.

"Tetapi Bayu tidak seperti itu!" sergah Nina cepat. "Bayu mencintaiku, Mbak! Ia tidak akan meninggalkanku."

Ya! Prihadi juga tidak seperti laki-laki lain. Ia juga mencintaiku. Prihadi tidak seperti laki-laki lain yang meniduriku dengan kasar. Ia bahkan sangat lemah lembut untuk ukuran "membeli" kehangatan dari seorang perempuan seperti aku. Karena Prihadi, maka aku tidak mau menerima tamu yang lain. Ia menginginkan aku hanya untuknya, maka ia membeli dan menebusku dari induk semangku. Lalu ia membawaku keluar dari wisma itu dan membelikan aku sebuah rumah kecil. Ia pahlawan bagiku. Ia tidak meninggalkanku. Bahkan memberikan benih kehidupan baru yang tumbuh di dalam tubuhku. Aku bahagia sekali. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk meninggalkannya.

Kuputuskan untuk meninggalkan Prihadi ketika istrinya datang menemuiku dengan begitu anggun dan berwibawa. Berhadapan dengan perempuan yang begitu berkilau, tinggi, langsing dengan kulit kuning, ayu dengan wajah priyayi, tutur katanya lemah lembut, membuatku benar-benar merasa rendah dan tidak ada artinya. Ia sama sekali tidak menghardik atau mencaci-makiku. Ia sungguh nyaris sempurna untuk ukuran seorang perempuan, kecuali…belum bisa memberikan anak untuk Prihadi!
"Kamu Ningsih? Aku istri Prihadi. Namaku Indah."
Oh, ia sungguh-sungguh seindah namanya.

"Aku tahu hubunganmu dengan suamiku," ujarnya dengan menekankan benar-benar kata "suamiku" itu. "Dan aku tahu kamu pasti perempuan baik-baik," lagi-lagi ia memberikan tekanan dalam kepada kata-kata "perempuan baik-baik" yang jelas-jelas ditujukannya kepadaku. "Sebagai perempuan baik-baik, kamu seharusnya tidak menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah beristri…dengan alasan apa pun," kali ini ia menekankan setiap kata-katanya sehingga membakat wajahku terasa panas.

"Nina, sebagai perempuan baik-baik, seharusnya kamu tidak berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri…dengan alasan apa pun…," aku mengulangi kalimat yang kusimpan lima tahun yang lalu untuk Nina. Sebetulnya itu klise, bukan? Hanya sekadar untuk menutupi gundah gulanaku yang entah kenapa merayapi seluruh permukaan batinku.

"Tetapi, Mbak, Bayu mencintaiku…," Nina menjawab. Jawaban itu juga yang kuberikan lima tahun yang lalu kepada perempuan yang nyaris sempurna itu.

Tetapi ketika itu, ia justru memberikan senyum manisnya. Ia benar-benar tanpa ekspresi marah. "Laki-laki biasa seperti itu. Tetapi kamu kan perempuan baik-baik. Walaupun Prihadi menggoda, mengejar dan mencintaimu, tetapi bukankah sudah sepantasnya kamu menolaknya? Kamu kan tahu kalau dia sudah beristri?" lagi-lagi ia membuatku pias.
Aku berusaha mem-photocopy kata-kata usang itu untuk Nina.
"Tetapi aku juga mencintai Bayu," ia melenguh getir.

Kurasakan getir yang sama ketika aku memberikan jawaban itu pula kepada istri Prihadi. Bahkan waktu itu aku masih memberikan tambahan jawaban. "Aku mengandung anak Prihadi…." Kuharap dengan jawabanku itu ia tidak akan mengusik perasaanku dengan kata-katanya yang lemah lembut tetapi terasa menampar-nampar.

"Baiklah, aku mengerti kalau kamu mencintai Prihadi," ia tertawa pelan tetapi sungguh terasa kian menusuk-nusuk.
Astaga! Ia tertawa! Terbuat dari apakah perempuan ini?

"Kalau kau mencintai seseorang, maka kau akan melakukan apa saja yang akan membuatnya bahagia kan?" Ia pandai sekali bermain kalimat. Sebentar kalimat pernyataan, sebentar kalimat tanya. Tetapi tidak ada satu pun dari kalimatnya yang membakatku merasa nyaman.

Hei! Konyol benar! Sudah syukur-syukur ia tidak memaki-makimu…, cetus batinku.
"Ya, aku akan melakukan apa saja untuk membuat Prihadi berbahagia."

"Nah, kau tahu kalau Prihadi adalah tokoh masyarakat yang cukup terkenal dan disegani di kota ini, kan? Ia memiliki kedudukan, kekayaan, karisma, dan nama baik. Apakah bisa kau bayangkan bagaimana reputasi Prihadi kalau sampai terbongkar mempunyai hubungan dengan perempuan lain…dan bahkan mempunyai anak di luar nikah?"

Oh…ia mempunyai tata bahasa yang sempurna! Ia sama sekali tidak menggunakan kata-kata kasar. Ia memakai istilah "mempunyai hubungan dengan perempuan lain", ia tidak mengatakan "mempunyai simpanan bekas pelacur", ia mengatakan "anak di luar nikah", ia tidak mengucapkan "anak haram". Apakah itu berarti ia menghargaiku? Tetapi kenapa aku justru tidak merasa dihargai? Aku justru merasa dipermalukan. Ataukah memang pantas aku dipermalukan?
"Bagaimana? Apakah situasi itu akan baik untuk Prihadi?"
"Tidak," aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali kata-kata itu.

Ia tertawa pelan tetapi kali ini benar-benar seperti tawa seorang algojo yang berhasil memengal kepala seorang tawanan yang sama sekali tidak melawan.

"Lalu bagaimana caramu untuk membuat Prihadi bahagia? Kamu tidak mau merusak semua yang sudah dimiliki Prihadi, kan?" Ia benar-benar algojo yang sempurna. Ia memenggal kepalaku tanpa rasa sakit sedikit pun.

Tinggal aku yang menggelepar, terkapar, tanpa pernah merasa sekarat meregang nyawa.

"Kalau kamu mencintai Prihadi, tinggalkan dia, gugurkan kandunganmu. Kamu pergi jauh dan memulai kehidupan baru. Aku akan membantumu. Kamu cantik sekali, Ningsih. Aku yakin, tidak akan sulit bagimu untuk mencari laki-laki baik yang belum beristri," ia menutup eksekusinya dengan kata-kata pelan tetapi penuh tekanan. "Jelas? Kuharap kamu cukup pandai untuk bisa mengerti semuanya," tandasnya.

Lalu tidak banyak yang bisa kubantah ketika ia "membantuku" menyelesaikan semuanya. Ia melakukan transaksi jual beli atas rumah yang kutempati. Ia menggantinya dengan sejumlah uang yang lebih dari cukup. Ia mengantarku ke dokter dan membayar semua ongkos "mengeluarkan" calon kehidupan yang bersemayam di tubuhku. Ia membelikan aku tiket pesawat. Ia mengantarku sampai ke bandara. Ia memeluk dan mencium pipiku, lalu berbisik, "Selamat menempuh hidup baru, Ningsih. Tolong, jangan ganggu kehidupan Prihadi. Terima kasih atas pengertianmu. Kamu memang perempuan yang baik…"
Oh! Ia benar-benar perempuan yang sempurna!

Sampai pesawatku tinggal landas, aku tidak bisa menitikkan air mata sama sekali. Apa yang perlu kutangisi? Perempuan itu tidak memaki atau menghinaku. Bahkan ia "membantuku" dan memberiku banyak uang untuk memulai kehidupan baru di kota yang jauh dari mereka. Terasa jutaan sembilu menikam-nikam. Hatiku terasa sakit tetapi mataku hanya bisa mengembun.

Sejak itu, aku berteman dengan kartu-kartu ini. Kartu-kartu ini pemberian induk semangku. Aku belajar dari dia membaca kartu-kartu ini. Dahulu, dari kartu-kartu ini, aku tahu apakah aku akan mendapat banyak tamu atau tidak? Apakah Prihadi akan datang atau tidak.
Ah, kutepis nama itu cepat-cepat.

Aku melanjutkan jalannya kartu-kartu yang masih berserakan di atas meja. Aku tidak mau mengingat masa lalu yang sudah sekian lama kukubur. Aku tidak mau menoleh ke belakang karena sangat menyakitkan. Toh, dengan uang yang kubawa, aku bisa membangun kehidupan baru, membeli rumah ini, membuka warung kecil, menerima kos-kosan, bertemu Nina…

"Halangan…rintangan…rindu…ah…ia tidak mempunyai uang!" Aku berusaha mengalihkan rasa lukaku dengan membaca kartu-kartu Nina. Lagi-lagi ramalan itu yang kubaca dari kartu-kartu yang bertebaran. "Bingung…perempuan…halangan…Ia merindukanmu juga. Tetapi ia bingung bagaimana harus menghadapi istrinya," cetusku.

Nina tertawa sumbang. "Bayu memang tidak punya uang. Istrinya yang kaya. Istrinya yang memegang kendali perusahaan. Istrinya sudah mengetahui hubungan kami. Dia lalu mengusirnya keluar dari perusahaan. Sekarang ia menghindar dariku, Mbak! Ia lebih mencintai kekayaan istrinya daripada perasaanku!"

"Bayu mengecewakanku, Mbak," sentaknya. Kali ini embun-embun di matanya berguguran menjadi rintik hujan. Mengalir deras menganak di lekuk-lekuk pipinya. "Bayu menipu hatiku, Mbak! Ia takut tidak bisa hidup kaya bila pergi bersamaku. Aku benci padanya!" Hujan itu sudah menjadi badai. Riuh rendah bergemuruh seakan puting beliung yang akan merubuhkan apa saja. Lara berkubang seperti seonggok daun-daun gugur di matanya yang tersayat.
"Apa yang kau inginkan darinya?"
"Aku ingin dia sakit…sesakit yang kurasakan!"

Aku tercenung. Sesakit itu pula yang pernah kurasakan. Betapa rasa benci itu melebihi rasa sakit. Aku juga benci setengah mati kepada Prihadi. Kenapa ia tidak mencariku kalau ia mencintaiku? Kenapa sejak istrinya yang begitu sempurna itu menemuiku, ia juga tidak pernah muncul? Lalu ketika istrinya "membantuku" untuk menyelesaikan semuanya, ia juga tidak ada kabar berita? Padahal sudah kucari seakan sampai ke ujung dunia. Apakah itu sudah merupakan kesepakatan mereka berdua?

Akhirnya, aku merasa pencarianku sia-sia. Ia kucari sampai ke ujung mimpi. Kubatin, kupanggil, kunanti, dengan seluruh pengharapan dan kerinduan. Tetapi ruang hampa yang kudapati. Sehingga, kuputuskan untuk bersahabat saja dengan rasa benci dan rasa sakit. Mungkin akan menjadi lebih ramah dan menyenangkan. Ternyata benar. Membenci lebih mudah daripada memaafkan. Sakit lebih nikmat daripada pengharapan. Jadilah rasa benci dan sakit yang kusimpan untuk Prihadi.

Malam demi malam, kusumpahi kandungan perempuan yang nyaris sempurna itu. Aku tidak rela menggenapi kesempurnaannya sebagai seorang perempuan dengan seorang anak, sementara ia menyuruh dokter untuk menyendok dengan mudah sebiji kacang hijau kecil di dalam rahimku. Biarkan ia juga menikmati sepi yang sama seperti sepi yang dibelikannya untukku.

Sejak malam itu, malam-malam Nina juga menjadi sibuk. Nina menjadi sangat menyukai malam seperti aku. Setiap malam, ia mengirimkan rasa sakit yang dirasakannya kepada Bayu. ***